IMAN YANG HAKIKI 2

Posted by Shammief on 12:24 AM, 05-May-13

Under: Islamy

MENUJU KEIMANAN YANG HAKIKI I. POTENSI MANUSIA Manusia memiliki suatu ciri yang khas dibanding dengan makhluk lain. Kehidupan kita sehari-hari menjadi petunjuk bagi kita, bahwa manusia memiliki sejumlah kebutuhan fisik yang apabila tidak dipenuhinya maka bisa mengantarkan kepada kerusakan manusia itu sendiri. Bentuk kebutuhan fisik ini diantaranya seperti: makan, minum, tidur, buang air, istirahat, dll. Di sisi yang lain manusiapun memiliki sejumlah naluri yang apabila tidak dipenuhinya maka manusia akan merasakan keresahan dan ketidak tentraman. Kalau kita mengamati manusia, ternyata dia memiliki tiga macam naluri; yaitu naluri mengeksiskan diri (gharizatul- baqa), naluri untuk melangsungkan keturunan (gharizatun-nau`) dan naluri beragama (gharizatut- tadayyun). Penampakan dari gharizatul-baqa, diantaranya: cinta kekuasaan, ingin memiliki, membela diri, marah, atau bertingkah yang mengarah kepada aktualisasi diri dihadapan yang lain. Penampakan gharizatun-nau` diantaranya: menyukai lawan jenis, keibuan atau kebapaan, mencintai anak dan keturunan, dll. Penampakan gharizatut-tadayyun diantaranya: merasa lemah dan butuh kepada selainnya, memuji perkara yang menakjubkan bagi dirinya, berharap dan memohon, menyucikan sesuatu, mengagungkan para pahlawan, beribadah, mengimani sesuatu, dll. Selain itu pula, manusia memiliki akal. Dengan akal inilah manusia menempuh kehidupan, menyelesaikan masalah pemenuhan segenap kebutuhan dirinya, baik yang berhubungan dengan kebutuhan fisik maupun naluri-nalurinya. II. JALAN MENUJU KEIMANAN Bagaimana cara kita mengetahui keshahihan keimanan kita? Bagaimana cara kita meyakinkan orang lain bahwa hanya Aqidah Islamiyah sajalah yang shahih? Dalam realita kehidupan saat ini, tidak sedikit kaum muslimin yang kurang mengetahui kenapa dia memeluk Islam. Ketika ditanya mengapa anda Islam? Sering terlontar jawaban yang paling sederhana: Ya karena orang tua saya Islam. Benarkah pemahaman keislaman seperti ini? Padahal Al-Qur’an menuntut untuk membuktikan setiap kebenaran yang diyakini manusia. “...Katakanlah: “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS Al-Baqarah: 111) Para fuqaha’ telah memberikan definisi iman sebagai berikut: “Iman adalah: pembenaran yang pasti yang sesuai dengan fakta berdasarkan dalil” Di sisi lain, banyak manusia yang mendasarkan keima­ nannya pada sesuatu hanya berdasarkan dugaan yang tidak bisa dibuktikan dengan akal sehat. Seperti menyebutkan Tuhan itu tiga, akan terjadi reinkarnasi setelah kematian, atau menyebut tidak ada hari kebangkitan. Sebagian manusia lagi mendasarkan keimanannya hanya pada perasaan (wijdan), walaupun itu fitrah di dalam diri manusia, tapi tanpa didukung dengan pembuktian akal. Bila keimanan hanya berdasarkan perasaan, yang terjadi pada manusia adalah kecenderungan untuk mengkhayalkan apa yang diimani dan mencari sendiri cara untuk menyembahnya. Maka muncullah penyembahan berhala, khurafat (cerita bohong), syirik, atau ajaran kebatinan. Islam sebagai satu-satunya diin yang kita yakini kebenarannya tentu tidak demikian. Islam adalah diin yang bisa dibuktikan kebenarannya dengan akal sehat, sesuai dengan fitrah manusia dan menentramkan hati. Dalam membuktikan kebenaran keimanan, dibutuhkan bukti (dalil). Dalil ini adakalanya bersifat aqli atau naqli, tergantung perkara apa yang diimani. Jika sesuatu itu masih dalam jangkauan panca indera maka dalilnya adalah aqli, tetapi jika sesuatu itu di luar jangkauan panca indera, wajib disandarkan pada dalil naqli. Dengan demikian dalil aqidah ada dua: 1. Dalil Aqli: dalil yang digunakan untuk membuktikan perkara- perkara yang bisa diindera sebagai jalan (perantara) untuk mencapai kebenaran yang pasti dari keimanan. Yang meliputi di dalamnya adalah beriman kepada keberadaan Allah, pembuktian kebenaran Al- Qur’an, dan pembuktian Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah. 2. Dalil Naqli: berita (khabar) pasti (qath’i) yang diberitakan kepada manusia berkaitan dengan perkara-perkara yang tidak dapat secara langsung dijangkau oleh akal manusia, yaitu mengenai beriman kepada Malaikat, Hari Akhir, Nabi-nabi dan Rasul-rasul, Kitab-kitab terdahulu, sifat- sifat Allah, dan tentang Taqdir. Khabar yang qath’i ini haruslah bersumber pada sesuatu yang pasti yaitu Al- Qur’an dan hadits mutawatir (hadist qath’i). Hanya saja perlu diingat bahwa penentuan dalil naqli juga ditetapkan dengan jalan aqli. Artinya, penentuan dalil tersebut dilakukan melalui penyelidikan untuk menentukan mana yang dapat dan mana yang tidak untuk dijadikan dalil naqli. Sebuah dalil naqli harus bisa dibuktikan terlebih dahulu kebenarannya secara aqli. Oleh karena itu, semua dalil tentang aqidah pada dasarnya disandarkan pada metode aqli (aqliyyah). Sehubungan dengan ini, Imam Syafi’i berkata: “Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berpikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah ta’ala. Arti berpikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berpikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indera, dan ini merupakan suatu keharusan. Hal seperti itu merupakan suatu kewajiban dalam masalah ushuluddin.” (Fiqh Al- Akbar, Imam Syafi’i) Al-Qur’an melarang seseorang untuk beriman tanpa proses berpikir (taqlid buta). Islam mencela orang yang beriman karena sebatas mengikuti orang tua atau nenek moyang mereka. “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah’. Mereka berkata: ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek- nenek moyang kami’. (Ataukah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk ?” (QS Al- Baqarah: 170) Oleh karena itu, masalah keimanan haruslah dibangun berdasarkan sesuatu yang dipastikan kebenarannya, tidak menduga-duga yang sifatnya dzanni (tidak pasti). Al-Qur’an telah menghinakan kaum musyrik karena mereka hanya mengikuti prasangka. Hanya saja perlu kita ingat, bahwa akal manusia hanya mampu membuktikan sesuatu yang berada di dalam jangkauan akal. Adapun yang di luar jangkauan akal, harus ada sesuatu sebagai perantara (wasilah) yang merupakan petunjuk atas hal-hal yang tak bisa dijangkau tadi. Seperti perkataan seorang Badui (orang awam) tatkala ditanyakan kepadanya: “Dengan apa engkau mengenal Robbmu?” Jawabnya: “Tahi onta itu menunjukkan adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan”. Oleh karena itu, ayat-ayat Al- Qur’an mengajak manusia untuk membuktikan keberadaan (eksistensi) Allah dengan berpikir melihat alam semesta. Karena keterbatasan akal dalam berpikir, Islam melarang manusia untuk memikirkan tentang dzat Allah. Sebab manusia mempunyai kecenderungan (bila ia hanya menduga-duga) menyerupakan Allah dengan suatu makhluk. Berkaitan dengan hal ini Rasulullah bersabda: “Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah tetapi jangan kamu pikirkan tentang Allah, Sebab kamu tidak akan sanggup mengira-ngira tentang hakikatnya sebenarnya”. (Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Nu’im dalam kitab Al- Hidayah; sifatnya marfu, sanadnya dlaif tetapi isinya shahih) Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat khayalan tentang dzat Allah yang sebenarnya. Sebagai contoh mengkhayalkan bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas Arsy- Nya. Sebab, dzat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisis. Ia tak dapat dianalogikan (qiyas) pada materi apapun. Inilah jalan yang ditempuh para sahabat, tabi’in dan ulama salaf, mereka tidak pernah menakwilkan ayat- ayat yang memang tidak mampu dijangkau oleh akal. Imam Ibn Al-Qayyim berkata: “Para Sahabat berbeda pendapat dalam beberapa masalah. Padahal mereka adalah umat yang dijamin sempurna imannya. Tetapi alhamdulillah, mereka tidak pernah terlibat bertentangan dalam menghadapi asma Allah, perbuatan-perbuatan Allah dan sifat-sifat-Nya. Mereka tidak menakwilkannnya, juga mereka tidak memalingkan pengertiannya.”(Lihat buku “I’laamul Muraaqin”, jilid 1, hal. 5) Ketika Imam Malik ditanya tentang makna ‘persemayaman-Nya (Istiwaa)’ beliau lama tertunduk bahkan mengeluarkan keringat. Setelah itu Imam Malik mengangkat kepala lalu berkata: “Persemayaman itu bukan sesuatu yang tidak diketahui. Juga, kaifiyat (caranya) bukanlah hal yang dapat dipahamkan. Sedangkan mengimaninya adalah wajib, tetapi menannyakan hal tersebut adalah bid’ah.”(lihat “Fath Al- Baari”, jilid XII, hal. 915) · Permasalahan Mendasar Manusia dan Kebangkitannya Secara fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Namun, hal itu tidak memberikan suatu jaminan bahwa setiap orang akan berkelakuan dan berakhlak baik. Oleh karena itu, apabila kita hendak mengubah perilaku seseorang yang hina menjadi mulia, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mengubah pemikiran dan pemahamannya. Oleh sebab itu, satu-satunya metode untuk mengubahnya adalah dengan memberikan penjelasan tentang pemikiran yang menyeluruh dan tuntas mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan (baik kehidupan dunia maupun kehidupan sebelum dan sesudahnya). Sebab pemikiran tersebut merupakan landasan ideal bagi semua pemikiran cabang yang berkaitan dengan kehidupan, dan yang memberikan pemecahan terhadap permasalahan mendasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Adapun persoalan yang mendasar tersebut adalah: Dari mana aku berasal? Mau apa aku? Akan kemana aku berakhir? Apabila ketiga pertanyaan tersebut telah terjawab oleh seorang manusia, akan terjawab pula pertanyaan- pertanyaan cabang yang lain. Jawaban terhadap permasalahan mendasar manusia itulah yang kemudian disebut dengan Aqidah. Adapun syarat sebuah aqidah yang benar haruslah sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan dan diterima akal manusia, dan memberi ketenangan batin dan menentramkan hati manusia. Aqidah Islam mengajarkan bahwa dibalik alam semesta, manusia, dan kehidupan terdapat Pencipta. Sang Pencipta inilah yang telah menciptakan ketiganya, dan segala sesuatu yang lainnya. Oleh sebab itu, Sang Pencipta ini disebut sebagai Khaliqul ‘Alam. Dia adalah Allah SWT yang bersifat mutlak ada-Nya (wajibul wujud). Dia bukanlah makhluk, sebab sifat-Nya sebagai pencipta merupakan petunjuk bahwa Dia bukan makhluk, dan memastikan bahwa keberadaan-Nya adalah tidak berawal dan tidak berakhir. Sementara selain Dia, yaitu alam semesta, manusia, dan kehidupan serta segala sesuatu yang lain bersifat terbatas, lemah dan memiliki sifat tergantung kepada makhluk lainnya, dan fana. Oleh sebab itu, tidak ada sesuatupun yang kekal selain Allah SWT. Dalam rangka membuktikan sifat Sang Pencipta ini menurut kemampuan akal manusia maka terdapat tiga kemungkinan dalam hal menentukannya. Pertama, Dia diciptakan oleh sesuatu yang lain. Kedua, Dia menciptakan diri-Nya sendiri. Ketiga, Dia memang mutlak adanya (wajibul wujud) tidak berawal dan tidak berakhir (azali). Untuk kemungkinan pertama, merupakan kemungkinan yang tidak dapat diterima akal. Sebab, apabila Dia diciptakan maka dengan demikian Dia akan memiliki sifat terbatas, lemah dan tergantung pada yang lain, Dia menempati posisi makhluk. Demikian pula, kemungkinan kedua adalah kemungkinan yang salah sebab mustahil Dia menjadi makhluk sekaligus sebagai Pencipta (Khaliq). Oleh karena itu, Sang Pencipta itu haruslah bersifat mutlak keberadaannya (wajibul wujud), tidak berawal dan tidak berakhir (azali), dan kekal. Sesungguhnya setiap manusia yang berakal mampu untuk membuktikan tentang eksistensi (keberadaan) Allah SWT, yaitu dengan memperhatikan mahluk ciptaan-Nya. Hal ini akan membuktikan bahwa tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang telah mengadakan (Pencipta). Dengan demikian, akan terbukti tentang kemutlakan- Nya sebagai Yang Maha Pencipta alam semesta dan segala isinya. Dalam hal ini Al- Qur’an pun banyak menyebutkan tentang benda- benda (makhluk) ciptaan Allah yang disertai dengan ajakan kepada manusia untuk senantiasa memikirkannya. Apabila kita hitung terdapat ratusan ayat yang menyatakan demikian. Di antaranya Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali-Imran: 190) “Dan di antara tanda- tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan oleh-Nya langit dan bumi, dan berbeda- bedanya bahasa dan warna kulit...” (QS Ar- Rum: 22) “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung- gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS AL- Ghasyiyah: 17-20) “Hendaklah manusia memperhatikan, bagaimana ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang memancar, yang keluar di antara tulang sulbi laki- laki dan tulang dada perempuan.” (QS Ath- Thaariq: 5-7) Itulah antara lain ajakan- ajakan Al-Qur’an untuk mengadakan perenungan dan pemikiran terhadap ayat-ayat Allah SWT di alam dan diri manusia sendiri. Dengan demikian, sangat diharapkan keimanan manusia kepada Allah SWT akan bertambah tebal, kokoh dan mantap. Jadi, setiap muslim wajib menjadikan imannya benar- benar tumbuh dari proses berpikir, kemudian mencari, dan memperhatikan serta harus menggunakan akalnya dalam beriman kepada Allah. Namun, meskipun menggunakan akal itu wajib dalam beriman kepada Allah, tidak setiap hal yang wajib diimani dapat dicapai oleh akal manusia. Bagaimanapun jenius dan pandainya pemikiran seseorang, pada dasarnya dia tetap memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, akal manusia tidak akan pernah mampu memahami Dzat dan Hakikat Allah SWT, sebab Allah berada di luar ketiga unsur pokok alam (alam semesta, manusia, dan kehidupan). Hendaknya, ketidakmampuan manusia untuk memahami-Nya justru menambah besar keimanannya karena hal itu menunjukkan kelemahannya sebagai makhluk dan ketidakterbatasan kekuasaan Allah SWT.Keyakinan dan keimanan yang bersumber dari pemahaman akal merupakan iman yang kokoh dan sempurna. Secara fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk beriman kepada Sang Pencipta, tetapi tanpa adanya akal yang memperkuat keimanan, akan menyebabkan naluri tersebut tersesat. Hal ini disebabkan perasaan hati manusia cenderung menambah- nambah keimanannya dengan sesuatu yang tidak masuk akal, misalnya dengan mengkhayalkan Tuhan yang dia imani dengan patung, matahari, gunung, dan sebagainya. Oleh karena itu, keimanan yang bersifat fitrah pada manusia harus disertai dengan bimbingan akal, sehingga akan menimbulkan suatu keyakinan yang teguh, kokoh dan pasti. Pada akhirnya, akan tertanam suatu pemahaman yang sempurna dan keyakinan yang mendalam akan sifat- sifat Ilahiyah. · Iman Terhadap Rasul Di samping ingin mencari kebenaran yang hakiki tentang Al-Khaliq yang disembahnya, manusia juga membutuhkan rasul sebagai penunjuk jalan dalam beribadah kepada Tuhannya, serta untuk membimbing manusia agar bisa memenuhi segenap kebutuhan dirinya (kebutuhan-kebutuhan fisik dan naluri-nalurinya) dengan suatu aturan yang bisa menenangkan jiwa dan memuaskan akal serta menjamin tercapainya kebahagiaan manusia secara hakiki. Sebab, tanpa adanya rasul yang membimbing dan mengarahkan, maka manusia dapat terperosok dalam cara- cara ibadah yang tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Allah SWT, baik perintah maupun larangan-Nya, dan manusia akan terjerumus kepada penyikapan dan penindakan yang salah. Aturan ini tidak boleh datang dari manusia, sebab bagaimanapun baiknya peraturan buatan manusia, pada dasarnya tetap tidak akan pernah sempurna dan abadi. Dengan demikian, aturan ini harus datang dari Allah SWT Yang Maha Mengetahui. Kemudian aturan- Nya itu disampaikan, dijelaskan, dan dilaksanakan melalui para Rasul-Nya. · Nabi Muhammad saw dan Bukti Kebenaran Al-Qur’an Adapun rasul terakhir yang diutus Allah di muka bumi ini adalah Nabi Muhammad saw. Mu’jizat terbesar yang dibawanya adalah Al-Qur’an Al-Karim yang merupakan Kalamullah (firman Allah) yang mutlak berasal dari Allah Yang Maha Kuasa. Al- Qur’an merupakan kitab suci yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagaimana pembuktian kebenaran tentang sifat-sifat Allah sebagai Sang Pencipta, ada tiga kemungkinan tentang asal-usul Al-Qur’an itu. Pertama, Al Qur’an merupakan karangan bangsa Arab. Kedua, Al-Qur’an adalah karangan Nabi Muhammad saw. Ketiga, Al-Qur’an merupakan hal yang mutlak yang berasal dari Allah SWT. Kemungkinan pertama adalah batil, sebab Al-Qur’an sendiri telah menantang manusia dan jin untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam ayat: “...Katakanlah! ‘Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyerupainya...” (QS Huud: 13) “...Katakanlah! ‘(kalau benar yang kalian katakan) Maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya...” (QS Yunus: 38) “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat hal yang serupa dengan Al-Qur’an ini, pastilah mereka tidak dapat membuat yang serupa denganya, sekalipun seluruh dari mereka saling membantu”.(QS Al-Israa’: 88). Dalam sejarah, kita mengenal beberapa orang Arab yang telah berusaha membuat karya-karya sastra untuk menandingi Al-Qur’an. Misalnya, Musailamah Al- Kadzdzab yang pada akhirnya ditertawakan dan tidak berhasil untuk membuat hal yang semisal dengan Al- Qur’an. Allah telah berjanji sampai kapan pun dan dengan daya upaya apa pun juga, manusia dan jin tidak akan mampu untuk membuat yang semisal dengan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman untuk menantang manusia, sbb: “Maka jika kalian tidak mampu dan (memang) tidak akan mampu (untuk membuat surat yang serupa dengan Al-Qur’an), takutlah akan neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah: 24) Kemungkinan yang kedua juga batil, sebab bagaiman pun jeniusnya Nabi Muhammad saw, beliau sendiri adalah orang Arab, anggota masyarakat dan bangsa Arab. Selama bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa dengan Al- Qur’an, logis pula apabila dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw yang juga orang Arab, tidak akan mampu melahirkan hal yang semisal dengan Al-Qur’an tersebut. Kalaupun beliau mengeluarkan pernyataan- pernyataan yang disebut Hadits, dan sebagian di antaranya diriwayatkan secara bersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya, itu bukanlah ayat-ayat Al-Qur’an dan tidak dapat disebut sebagai ayat- ayat Al-Qur’an. Di samping itu apabila dilihat dari susunan kata dan gaya bahasanya, antara Al-Qur’an dan Al-Hadits berbeda. Oleh karena itu, benarlah bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan Nabi Muhammad saw. Memang kaum musyrikin di Mekah pernah menuduh bahwa Al-Qur’an itu disadur oleh Nabi Muhammad saw dari seorang pemuda Nashrani yang bernama Jabr. Namun, tuduhan tersebut disanggah keras oleh Allah SWT melalui firmannya: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata ‘Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya, bahasa ‘Ajamy (non Arab), sedang Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab yang nyata.” (QS An-Nahl: 103) Dengan demikian, terbuktilah bahwa Al-Qur’an itu bukan karangan bangsa Arab atau Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, semakin yakinlah kita sebenarnya Al-Qur’an itu Kalamullah yang merupakan mu’jizat Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul-Nya yang terakhir, dan Al-Qur’an mutlak datangnya dari Allah SWT. Itulah dalil-dalil aqli dalam beriman kepada Allah, kerasulan Muhammad saw, dan tentang Al-Qur’an yang merupakan Kalamullah. · Konsekuensi Keimanan Kita Sebagaimana kita ketahui, iman kepada Allah SWT harus datang dari pemahaman akal. Keimanan inilah yang menjadi dasar kuat bagi kita untuk beriman kepada hal-hal yang ghaib dan segala apa yang dikabarkan oleh Allah SWT. Sebab, apabila kita telah beriman kepada-Nya maka konsekuensinya kita wajib pula beriman terhadap apa- apa yang dikabarkan-Nya melalui Rasul-Nya. Begitulah aqidah seorang muslim yang menggunakan akal. Kalaupun dia harus mempercayai dalil-dalil naqli (kutipan), maka dalil-dalil yang diterimanya itu harus qath’i (pasti). Untuk mengetahui apakah suatu dalil pasti atau tidak, juga harus memakai akal dalam memilah dan memilihnya. Sebab, tidak ada taqlid dalam masalah aqidah. Oleh karena itu, Aqidah Islamiyah disebut Aqidah Aqliyah, artinya aqidah yang dapat diterima oleh akal. · Jawaban Atas Tiga Pertanyaan Mendasar Dengan penjelasan-penjelasan tersebut di atas, wajib bagi kita untuk beriman kepada sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia, yakni Allah SWT dan kepada yang ada setelah kehidupan dunia, yakni hari Kiamat (akhirat). Perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits merupakan penghubung antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelumnya yang terkait dengan masalah penciptaan. Juga, perintah- perintah Allah merupakan penghubung antara kehidupan dunia dengan kehidupan sesudahnya (akhirat), di mana terdapat proses penghitungan amal pada hari kebangkitan manusia di padang Mahsyar. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang muslim pada dasarnya harus senantiasa terkait dengan hubungan-hubungan tersebut, sehingga dalam menjalani kehidupan di dunia selaras dengan aturan yang datang dari Allah SWT. Demikian pula, menjadi suatu keyakinan dalam aqidah muslim tadi bahwa di akhirat nanti setiap manusia akan dihisab dan dimintai pertanggung- jawaban atas perbuatan- perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. Dengan demikian, telah terbentuk suatu pemikiran yang jernih tentang apa-apa yang ada di balik alam semesta, manusia, dan kehidupan, baik kehidupan sebelum maupun sesudah dunia ini, yang semuanya terjalin dalam satu hubungan dan satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, terjawablah ketiga pertanyaan mendasar tersebut dengan Aqidah Islamiyah. Selanjutnya dapatlah kiranya manusia memikirkan kehidupan dunia serta mewujudkan pemahaman yang benar hasil dari pemikiran ini. Pemecahan tersebut akan menjadi dasar berdirinya suatu landasan (mabda’) yang akan membentuk jalan ke arah kebangkitan umat manusia. Hal itu juga akan menjadi dasar bagi kerangka bangunan masyarakat yang Islami, sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam syariat-Nya. Jadi, dasar berdirinya Islam secara ideal maupun metodologis adalah dengan Aqidah Islamiyah. Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya kepada kitab yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya, dan kepada kitab- kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan barangsiapa ingkar kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul- rasul-Nya dan Hari Akhir, maka ia telah sesat sejauh- jauhnya..” (QS An-Nisaa: 136) Keimanan Menuntut Penyerahan Diri Secara Total Setelah seorang muslim beriman kepada apa-apa yang telah dijelaskan di atas, ia pun wajib menerima seluruh Syariat Islam sebagai pengatur bagi kehidupannya. Sebab, syariat itu datang dari Allah SWT melalui rasul-Nya, baik yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Penerimaan terhadap hal tersebut harus utuh dan bulat, tidak boleh hanya sebagian- sebagian. Tidak boleh dipilah- pilah dalam menerima hukum- hukum Allah. Semuanya harus diterima dan diimani dengan sepenuh hati. Jadi penolakan terhadap ayat: “Tegakkanlah shalat...!” (QS Al-Baqarah: 110) sama saja dengan penolakan terhadap ayat: “...Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (QS Al-Baqarah: 275) atau ayat: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya...” (QS Al-Maidah: 38) “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah...” (QS Al- Maidah: 3) Dan penerimaan terhadap Syariat Islam tidak boleh berhenti pada akal saja, dalam arti hanya sebatas kepada pengetahuan. Akan tetapi, harus terdapat penyerahan mutlak dan totalitas terhadap segala peraturan yang datang dari Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka itu (pada hakikatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kauberikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(QS An-Nisaa: 65)

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(Some BBCode tags are allowed)

Security Code:
Enable Images